Dinkes Lotim Perkuat Intervensi Stunting, Fokus Utama Tetap pada 1.000 HPK
LOMBOK TIMUR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lombok Timur terus mengoptimalkan upaya penanganan stunting melalui intervensi yang menyasar anak hingga usia 59 bulan atau lima tahun. Meski cakupan program diperluas, periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) tetap menjadi prioritas utama dalam pencegahan stunting.
Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, Lalu Aries Fahrozi, mengatakan masa 1.000 HPK merupakan fase paling menentukan bagi tumbuh kembang anak. Periode tersebut berlangsung sejak masa kehamilan hingga anak berusia sekitar dua tahun.
"Intervensi memang dilakukan sampai usia lima tahun, tetapi yang paling kami tekankan adalah 1.000 Hari Pertama Kehidupan karena merupakan periode emas," ujarnya kepada Suara NTB.
Menurut Aries, keberhasilan pencegahan stunting sangat ditentukan pada masa tersebut. Oleh karena itu, berbagai program kesehatan ibu dan anak terus diperkuat agar risiko stunting dapat dicegah sejak dini.
Berdasarkan data terbaru Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), prevalensi stunting di Lombok Timur menunjukkan tren penurunan. Namun demikian, masih terdapat 545 data kasus yang saat ini sedang dalam proses klarifikasi.
"Data baru sebanyak 545 kasus masih kami koordinasikan dengan pemerintah provinsi untuk memastikan validitasnya," katanya.
Koordinasi tersebut dilakukan agar data yang digunakan benar-benar akurat sehingga intervensi yang dijalankan dapat tepat sasaran.
Dalam penanganan stunting, Dinkes Lombok Timur berfokus pada intervensi spesifik melalui pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan pemenuhan gizi, kesehatan ibu hamil, bayi, dan balita. Di saat yang sama, pemerintah juga memperkuat intervensi sensitif bersama lintas sektor, seperti penyediaan air bersih, sanitasi yang layak, hingga peningkatan kesejahteraan keluarga.
Peran Puskesmas sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) juga terus diperkuat melalui pendampingan kepada seluruh Posyandu di wilayah kerja masing-masing.
"Puskesmas tetap melakukan koordinasi dan pendampingan di semua Posyandu, termasuk dalam penanganan stunting," tegas Aries.
Sementara itu, berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM), angka prevalensi stunting di Kabupaten Lombok Timur saat ini berada di kisaran 15 persen. Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan wilayah prioritas sekaligus mengevaluasi efektivitas program penanganan stunting.
Melalui penguatan layanan kesehatan dasar dan kolaborasi lintas sektor, Dinas Kesehatan Lombok Timur berharap angka stunting dapat terus ditekan. Meski demikian, penyempurnaan data serta perluasan cakupan intervensi tetap menjadi tantangan yang harus diselesaikan secara bersama.
Bila untuk kebutuhan media, berita ini juga bisa dibuat lebih tajam dengan lead yang langsung menonjolkan penurunan stunting menjadi 15 persen, karena itu merupakan nilai berita yang paling kuat.



Post a Comment