Momentum Hultah ke-26 Majelis Dzikir Al Hisnul Mani', Gubernur NTB Soroti Kemiskinan dan Ajak Perkuat Sinergi Spiritual
Lombok Timur - Momentum peringatan Hultah ke-26 Majelis Dzikir Al Hisnul Mani’ NW Pancor Manis dimanfaatkan sebagai ajang refleksi bersama antara pemerintah dan tokoh agama dalam menghadapi persoalan kemiskinan di Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (29/3/2026).
Gubernur NTB, Lalu Muhammar Iqbal, dalam sambutannya menegaskan bahwa kemiskinan masih menjadi tantangan serius yang harus segera ditangani secara menyeluruh, terutama melalui penguatan pembangunan desa.
“Pemprov NTB ingin fokus membangun desa. Saat ini NTB masih menjadi 12 provinsi termiskin. Tidak ada pilihan bagi kita untuk menyelesaikan kemiskinan,” ujar Iqbal.
Ia mengingatkan bahwa pembiaran terhadap kondisi tersebut akan berdampak luas, bahkan berpotensi melanggengkan kemiskinan ekstrem secara turun-temurun.
“Kalau kita membiarkan, maka sama dengan kita membiarkan mereka jatuh dalam kebatilan. Bahkan miskinnya miskin ekstrem, miskin keturunan,” katanya.
Menurutnya, pengentasan kemiskinan merupakan kewajiban pemerintah yang harus dijalankan secara konsisten dengan dukungan seluruh elemen masyarakat.
“Ini adalah kewajiban kami di NTB untuk mengeluarkan mereka dari kemiskinan,” tegasnya.
Iqbal juga menyinggung pentingnya kesiapan batin di tengah dinamika sosial saat ini. “Kondisi saat ini dibutuhkan kebersihan hati dan kejernihan pikiran. Bulan depan akan banyak bertemu dengan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, pimpinan Majelis Dzikir Al Hisnul Mani’ NW Pancor Manis, TGH Muhammad Jamiluddin Syahid Al Yazidi, menyampaikan bahwa Hultah ke-26 menjadi momentum untuk memperkuat peran majelis dalam membina kehidupan spiritual masyarakat.
“Majelis zikir ini ulang tahunnya sekarang yang ke-26. InsyaAllah ke depan kami terus mengajak masyarakat untuk tidak lupa berdoa, karena doa itu penting untuk memanage ruhani,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa majelis tidak hanya berfokus pada kegiatan ibadah seperti zikir dan wirid, tetapi juga membangun ketahanan mental dan spiritual masyarakat agar mampu menghadapi berbagai persoalan hidup, termasuk kemiskinan.
“Bagaimana mereka bisa sabar, bisa bersyukur dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menghadapi cobaan hidup,” katanya.
Menurutnya, pendekatan spiritual dapat menjadi pelengkap dari upaya pemerintah yang bersifat lahiriah dalam pengentasan kemiskinan.
“Dari pihak pemerintah mengentaskan kemiskinan dengan ikhtiar zahiriyah, sedangkan kami melalui pendekatan kerohanian,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmen untuk mendukung program pemerintah daerah, khususnya dalam bidang pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.
“Kalau program pemerintah jelas kami akan terus support sesuai dengan bidang kami,” katanya.
Dalam momentum Hultah tersebut, ia berharap terbangun sinergi yang lebih kuat antara pemerintah dan lembaga keagamaan, sehingga upaya pengentasan kemiskinan dapat berjalan lebih efektif.
“Harapannya bisa terjalin sinergi program atau bentuk kerja sama lainnya,” ujarnya.



Post a Comment