Bukan Sekadar Makanan Tambahan, RUTF Jadi Andalan Tangani Gizi Buruk Balita
LOMBOK TIMUR,- Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), menyiapkan pemberian makanan terapi siap saji atau Ready-to-Use Therapeutic Food (RUTF) untuk mendukung penanganan balita gizi buruk melalui layanan rawat jalan pada 2026.
Ketua Tim Kerja Gizi Dikes Lombok Timur, Hairul Hadi, mengatakan RUTF merupakan makanan padat gizi yang dirancang untuk membantu pemulihan balita gizi buruk. Pemerintah pusat kembali mendukung penyediaan logistik RUTF untuk Lombok Timur pada tahun ini, setelah program tersebut dilaksanakan pada 2025.
“Untuk tahun 2025, alokasi dari kementerian hanya diberikan kepada tiga kabupaten/kota di NTB, yaitu Kota Bima, Kota Mataram, dan Lombok Timur,” kata Hairul.
Ia menjelaskan, RUTF digunakan dalam tata laksana balita gizi buruk tanpa komplikasi yang memenuhi kriteria perawatan rawat jalan. Sementara itu, balita dengan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut harus mengikuti tata laksana sesuai kondisi medisnya.
Hairul menjelaskan dalam satu bungkus RUTF memiliki kandungan energi yang setara dengan dua piring nasi. Pemberiannya diharapkan membantu memperbaiki status gizi balita sesuai kebutuhan terapi dan pemantauan tenaga kesehatan.
Untuk memperkuat pelaksanaan program, Dikes Lombok Timur menggelar orientasi tata laksana gizi buruk dengan pendekatan komunikasi antarpribadi (KAP), Rabu (14/10/2026). Kegiatan tersebut melibatkan 36 tenaga pelaksana gizi dari puskesmas di Lombok Timur.
Hairul mengatakan, pengiriman logistik RUTF untuk 2026 diperkirakan tiba pada awal November. Setelah tersedia, makanan terapi tersebut akan didistribusikan ke 36 puskesmas berdasarkan kebutuhan dan jumlah kasus yang telah diverifikasi.
“Distribusinya akan disesuaikan dengan permintaan puskesmas dan kasus yang sudah dikonfirmasi,” ujarnya.
Berdasarkan data pelaporan melalui sistem informasi gizi, terdapat sekitar 183 balita gizi buruk di Lombok Timur yang menjadi acuan pengajuan kebutuhan RUTF kepada kementerian. Namun, tentunya jumlah tersebut masih perlu verifikasi dan validasi lanjutan di tingkat bawah.
Ada perbedaan mendasar antara kasus gizi buruk dengan stunting. Pada permasalahan gizi buruk bisa terjadi dalam jangka waktu yang relatif singkat. Sedangkan stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis yang berkaitan dengan kekurangan gizi dalam jangka panjang.
Ia pun berharap agar program Makan Bergizi Gratis (MBG), terus membantu meningkatkan pemenuhan asupan gizi kelompok sasaran, terutama ibu hamil, balita, dan ibu menyusui. Meskipun penanganan masalah gizi tetap harus mengikuti pedoman teknis yang berlaku.
"Tentu harapan kita, MBG dapat melengkapi perbaikan gizi melalui pemenuhan konsumsi makanan bergizi bagi kelompok sasaran di tingkat masyarakat," kata dia.














Post a Comment